Eiger Gelar Program Benih Untuk Pulih di Daerah Pasca Bencana Sumatera

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, beberapa pekan yang lalu, saudara kita yang tinggal di daerah Pulau Sumatera Utara (Sumut) dan sekitarnya telah mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Sebagai informasi bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumut berlangsung selama beberapa hari, dan banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat bencana tersebut.

Berdasarkan data yang ada maka dijelaskan bahwa saat ini telah terdapat 1.106 korban yang meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Selanjutnya, terdapat 276 korban hilang, dan 5.000 korban luka-luka, jadi jika di total secara keseluruhan, maka terdapat puluhan ribu penduduk di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat yang terkena dampak dari bencana banjir bandang dan tanah longsor tersebut.

Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengumumkan bahwa saat ini terdapat kurang lebih 3.300 unit rumah rusak berat, 4.100 unit rumah rusak sedang, 20.700 unit rumah yang mengalami rusak ringan, 1.100 unit fasilitas umum rusak berat, 270 unit fasilitas kesehatan rusak sedang hingga berat, 509 fasilitas pendidikan rusak sedang hingga berat, 338 rumah ibadah rusak sedang hingga berat, 221 gedung atau kantor rusak sedang hingga berat, dan 405 jembatan rusak berat.

Sejumlah pakar mengaku bahwa bencana alam yang terjadi di Sumatera dapat menjadi peringatan keras bagi kita semua agar kita dapat bijaksana dalam melakukan eksploitasi sumber daya alam (SDA).

Berdasarkan kabar yang beredar di sosial media, maka dijelaskan bahwa bencana alam yang terjadi di Sumatera diakibatkan karena adanya penebangan pohon secara masif, terlebih lagi adanya aktivitas penambangan atau penebangan pohon secara ilegal, padahal pohon yang ada di hutan sangat mempunyai dampak positif bagi kehidupan manusia, seperti memberikan oksigen, memberikan buah yang segar, mengatur siklus air dan mencegah bencana, menjadi tempat tinggal satwa liar, penyaring udara kotor dari aktivitas industri dan polusi udara kendaraan, dan perlindungan pesisir.

Namun nahas, sikap kerakusan dan ketamakan dari manusia dapat membuat hutan menjadi gundul, serta dapat mendatangkan dampak negatif sendiri bagi kehidupan manusia, contohnya ialah bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatera.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan, saat ini seluruh jajaran Kabinet Merah Putih sedang berfokus dan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pemulihan pasca bencana Sumatera.

Menurut Presiden Prabowo Subianto, pembangunan yang menjadi prioritas saat ini ialah pembenahan dan pembangunan kembali infrastruktur lalu lintas darat (jembatan, jalan raya, terowongan, underpass, dan flyover).

Presiden Prabowo Subianto mengaku bahwa infrastruktur lalu lintas darat adalah kunci utama untuk menyelamatkan banyak saudara kita yang terdampak bencana, karena dengan adanya infrastruktur lalu lintas darat maka pasokan logistik dan obat-obatan dapat segera tersalurkan.

Banyak masyarakat yang rispek dan mendukung program prioritas pemulihan pasca bencana Sumatera oleh Presiden Prabowo Subianto.

Tetapi, sejumlah pakar alam mengklaim bahwa pemulihan pasca bencana bukan semata-mata soal pembenahan dan pembangunan infrastruktur saja, melainkan kita juga harus berfokus dalam melakukan pemulihan kembali alam yang sudah kita rusak sebelumnya.

Pemulihan alam yang dimaksud ialah seperti reboisasi, restorasi gambut, rehabilitasi lahan tambang, reintroduksi spesies, konservasi habitat, remediasi tanah, dan pertanian berkelanjutan dan organik.

Sejumlah pakar mengklaim bahwa pemulihan alam dan tanggung jawab lingkungan bukan semata-mata tugas pemerintah saja, melainkan kita sebagai warga negara yang bijak juga harus turut andil dalam menjaga lingkungan agar tetap asri dan sehat.

Baru-baru ini, Eiger dan Nation Geographic (NatGeo) telah resmi berkolaborasi untuk menggelar program Benih Untuk Pulih Pasca Bencana Sumatera.

Benih Untuk Pulih adalah program yang dirancang untuk dapat memperbaiki kualitas hutan yang telah rusak akibat aktivitas penebangan secara masif, dan program ini akan berfokus pada pemetaan kondisi hulu hutan Sumatera.

Brand Communications Eiger, Zakiy Zulkarnaen mengatakan, program Benih Untuk Pulih akan digelar pada bulan April 2026, dan pada pelaksanaannya pihak Eiger akan membagi menjadi dua titik pemulihan, titik pertama beradadi daerah Bentang Leuseur di Aceh dan Sumatera Utara. Selanjutnya, titik kedua akan digelar di daerah Batu Sangkar di Sumatera Barat.

Zakiy Zulkarnaen mengaku bahwa premisnya, kita ingin balik ke Sumatera untuk memetakan gimana sih dampak kebencanaan di sana, khususnya di hutan-hutan tutupan di sana.

 

Melakukan Antisipasi

Bencana Banjir Tamparan Pembelajaran

Menurut Zakiy Zulkarnaen, langkah antisipasi dan mencegah sangat lebih baik dari pada mengobati, oleh karena itu, saat ini kita harus melakukan antisipasi dan pencegahan agar tidak ada lagi yang namanya bencana susulan.

Zakiy Zulkarnaen menegaskan, pohon yang akan digunakan untuk pemulihan pasca bencana Sumatera ialah pohon endemik, karena pohon endemik dinilai mampu menjaga keseimbangan ekosistem, menahan erosi dan melindungi sumber air, dan ramah lingkungan.

Zakiy Zulkarnaen menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih sangat terbuka untuk menerima segala kritik, saran, dan rekomendasi terkait lokasi pemetakan pemulihan hutan di Sumatera.

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim mengatakan, pemetaan titik pemulihan hutan telah didasari dengan kondisi bentang alam yang sangat krusial dan berkaitan langsung pada bencana titik paling barat di Sumatera yang menyambung ke Aceh hingga Sumatera Utara.

Disisi Kaspi Kasim mengaku bahwa pihaknya memang mempunyai banyak keterbatasan dalam menggelar program pemulihan hutan, dan pastinya tidak akan bisa memulihkan hingga 100 persen, tetapi dengan niat yang baik, doa, serta banyaknya dukungan dari sejumlah pihak, maka harapannya adalah pemulihan hutan dapat berhasil hingga mendekati sempurna.

Kaspi Kasim menjelaskan, program Benih Untuk Pulih bukan semata-mata soal menanam kembali pohon yang sudah rusak, melainkan dalam program tersebut, pihaknya juga akan memberikan edukasi terhadap seluruh masyarakat sekitar dan para pelaku industri untuk mulai peduli dan mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan.

Related posts