Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin untuk menstabilkan dan menguatkan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Sebagai informasi bahwa sejak beberapa hari yang lalu, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS terus mengalami pelemahan, bahkan sempat berada di titik tertinggi yakni Rp 17.669 per 1 Dolar AS.
Angka kurs tersebut menunjukan bahwa saat ini nilai tukar mata uang Rupiah Indonesia telah mengalami pelemahan yang cukup serius, dan hal tersebut akan berdampak terhadap beberapa sektor yang pada akhirnya akan berdampak buruk juga terhadap ekonomi Indonesia.
Sejumlah pengamat ekonomi nasional mengklaim bahwa melemahnya kurs mata uang Indonesia akan berdampak signifikan terhadap roda perekonomian nasional, khususnya terhadap sektor yang bergerak dalam bidang impor industri manufaktur.
Lemahnya kurs mata uang Rupiah tersebut juga sangat membebani biaya operasional perusahaan dalam biaya impor, contohnya yakni volume impor tetap, tetapi biaya menjadi lebih mahal.
Bukan hanya menimbulkan dampak negatif terhadap industri saja, tetapi lemahnya nilai tukar mata uang Rupiah juga akan menyebabkan beberapa masalah serius pada perekonomian nasional, seperti inflasi dan meningkatkan beban utang luar negeri.
Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, saat ini pemerintah sedang mengambil sejumlah langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah tingginya tekanan pasar global.
Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, salah satu langkah yang sangat efisien untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yakni dengan skema Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund.
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, saat ini negara Indonesia harus lebih aktif dalam skema pasar obligasi global, karena dengan keaktifan tersebut, maka para investor asing akan kembali percaya dan melakukan investasi ke negara Indonesia secara berkala.
Berdasarkan hasil pantauan sementara, maka dijelaskan bahwa saat ini kondisi pasar investasi di Indonesia mulai menunjukan trend yang membaik, dan diharapkan pada beberapa pekan kedepan, nilai tukar Rupiah kembali stabil bahkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas mengatakan bahwa dirinya akan melakukan pemantauan bond market setiap hari ke pasar global, dan dirinya siap melakukan promosi ke pasar asing tentang investasi di negara Indonesia.
Strategi bond market yang diterapkan yakni meliputi suntikan dana sebesar Rp 2 triliun per hari untuk masuk ke pasar obligasi, dan pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dengan mengendalikan tingkat imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).
Banyak warganet yang bertanya-tanya, apakah suntikan dana Rp 2 triliun per hari tersebut akan mengganggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahunan.
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bahwa suntikan dana tersebut dikhususkan untuk stabilisasi nilai tukar mata uang rupiah, maka sumber dana-nya sendiri juga harus khusus, yakni berasal dari pengelolaan kas pemerintah yang signifikan dan sudah dipastikan tidak akan mengganggu APBN maupun fiskal negara.
Tanggapan Petinggi BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, berdasarkan pantauan dari pihak BI, maka pergerakan Rupiah saat ini masih dalam kategori wajar dan stabil meskipun sempat berada di titik tertinggi yani Rp 17.669 per 1 dolar AS.
Perry Warjiyo menjelaskan, sebagian besar bank sentral di dunia tidak berpatokan dan tidak bergantung terhadap nilai tukar sebagai target utama kebijakan moneter suatu negara.
Pendekatan yang dilakukan oleh sebagian bank sentral tersebut membuat mata uang di banyak negara menjadi fluktuatif dan tidak tergantung terhadap satu nilai tukar mata uang saja.
Menurut Perry Warjiyo, saat ini Bank Indonesia sudah mempunyai pendekatan pengukuran sendiri untuk menilai nilai tukar mata uang Rupiah, pendekatan tersebut dijuluki dengan indikator volatilitas.
Indikator volatilitas tersebut berpatokan dengan standar deviasi suatu negara, jadi diukur dengan statistik yang luas dan terarah, bukan hanya sekedar dengan level awal.
Disisi lain, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa juga menghimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir tentang pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah, karena saat ini pemerintah dan Bank Indonesia sedang berupaya semaksimal mungkin untuk menstabilkan dan menguatkan kembali nilai tukar Rupiah.
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, yang terpenting saat ini adalah laporan APBN hasilnya masih terlihat bagus, dan hasil laporan APBN tersebut dapat mencerminkan kondisi pondasi negara Indonesia saat ini, maka dari itu masyarakat tidak perlu khawatir berlebih.
