Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan lebih dari satu tahu sejak diluncurkan.
Sebagai informasi bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 6 Januari 2025.
Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa program MBG telah menjangkau lebih dari 56,13 juta penerima manfaat yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia.
Banyak masyarakat yang bersyukur atas adanya program MBG tersebut, karena program MBG sangat meringankan beban orang tua dalam memberikan gizi yang bagus terhadap anaknya, terlebih lagi mereka yang mempunyai gaji Upah Minimum Regional (UMR) atau dibawahnya.
Sejumlah penelitian juga mengklaim bahwa program MBG mempunyai pengaruh positif signifiikan terhadap tingkat stunting di Indonesia.
Sejak adanya peluncuran program MBG, maka tingkat stunting di Indonesia telah menurun sangat drastis, yakni pada tahun 2025 tingkat stunting beraada di angka 18,8 persen dari total populasi penduduk di Indonesia, dan angka tersebut menunjukan trend penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya, pada tahun 2023-2024 tingkat stunting masih berada di atas 20 persen.
Pemerintah terus berkomitmen bahwa pada tahun 2026 ini program MBG akan terus dikembangkan dan memperluas cakupan hingga target 80juta penerima manfaat.
Bukan hanya berfokus terhadap pengembangan dan perluasan penerima manfaat saja, melainkan pemerintah juga akan memperketat penyaluran dan pengawasan MBG dari hulu ke hilir, agar kasus keracunan tidak akan terjadi lagi.
Baru-baru ini, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang meminta kepada seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meninjau langsung ke sekolah-sekolah penerima manfaat MBG, dan Kepala SPPG harus memastikan bahwa MBG telah disalurkan dengan benar serta sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan, tugas Kepala SPPG bukan hanya meminta data kepada guru saja, melainkan Kepala SPPG juga harus turun langsung ke para siswa dan siswi dan memantau perkembangan mereka.
Nanik Sudaryati Deyang mengaku bahwa pada beberapa hari yang lalu, terdapat video viral yang memperlihatkan bahwa terdapat sekolah yang tetap mendapatkan 63 porsi MBG setiap hari padahal sekolah tersebut tidak ada aktivitas belajar mengajar (KBM) karnea tidak memiliki siswa, sekolah yang dimaksud ialah SDN 1 Batuporo Timur, di Dusun Pandiyan, Desa Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Sampang, Madura, Jawa Timur.
Berikut cuplikan video dari para guru
@surabayatv Madura – SDN Batuporo Timur 1 di Kabupaten Sampang menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang diunggah oleh warga bernama Zainudin pada 20 Januari 2026 viral di media sosial. Dalam video tersebut, kondisi sekolah tampak sepi tanpa kehadiran siswa, sementara area sekolah dipenuhi rumput liar. Ironisnya, pada jam aktivitas belajar mengajar, sejumlah oknum guru justru terlihat bersantai, membuat kopi, dan menonton tayangan musik. Meski tidak terlihat adanya kegiatan pembelajaran, sekolah tersebut dilaporkan tetap menerima bantuan program Makan Bergizi Gratis atau MBG sebanyak 63 porsi per hari. Kondisi ini dinilai berpotensi merugikan keuangan negara. Selain itu, berdasarkan data Dinas Pendidikan setempat, tercatat sebanyak delapan guru terdaftar di sekolah tersebut. Namun, hanya empat orang guru yang diketahui rutin hadir menjalankan tugas di sekolah. #viral #beritaviral #beritaterkini #surabayatv
Video tersebut dapat menjelaskan bahwa saat ini penyaluran MBG memang harus diawasi dan dipantau secara ketat dari hulu ke hilir, agar penyalurannya tepat sasaran serta tidak sia-sia.
Setelah dilakukan pendalaman, ternyata pada beberapa bulan yang lalu, sekolah tersebut memang mempunyai 12 orang siswa laki-laki, dan 21 orang siswa perempuan, sementara guru yang mengajar sebanyak 7 orang, tetapi lambat laun, siswa dan siswi mulai pamit dari sekolah dan memilih belajar di Madrasah, dan kembali di sekolah lagi hanya setiap hari Jumat.
Sejumlah pakar mengklaim bahwa viralnya video tersebut dapat menjadi bukti bahwa saat ini pemantauan penyaluran MBG masih sangat lemah, dan pembaruan data juga tidak dilakukan secara rill time.
Lebih nahasnya lagi, ternyata jarak SPPG dengan sekolah yang siswanya kosong tersebut sangat berdekatan, dan hanya berjarak kurang lebih 10 menit. Berhubung kepala SPPG tidak pernah melakukan kunjungan ke sekolah tersebut, jadi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah tersebut.
Disisi lain, Nanik Sudaryati Deyang juga menegaskan bahwa kasus tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita tidak boleh males-malesan atau menyepelekan terkait prosedur pemantauan, karena pemantauan dan pembaruan data sangatlah penting untuk memastikan bahwa MBG telah disalurkan dengan tepat sasaran.
Nanik Sudaryati Deyang juga berkomitmen bahwa dirinya akan ikut turun langsung untuk melakukan pemantauan di sejumlah daerah, dan dirinya juga meminta kepada para SPPG untuk memperluas lagi cakupan MBG, karena diluar sana masih banyak siswa siswi anak bangsa yang membutuhkan MBG.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang dalam acara Koordinasi dan Evaluasi bersama Forkompimda, Kasatpel, Yayasan, Mitra, Korwil, dan seluruh Kepala SPPG se Kabupaten Banyuwangi di Kota Banyuwangi, Jawa Timur.
