Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai jumlah penduduk paling tinggi di dunia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, maka dijelaskan bahwa pada tahun 2025 ini, jumlah populasi penduduk di Indonesia telah mencapai 281,6 juta jiwa.
Bahkan, berdasarkan data dari situs internasional, maka dijelaskan bahwa negara Indonesia menduduki peringkat keempat dalam daftar negara dengan penduduk tertinggi di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat.
Diketahui, tingginya jumlah penduduk tersebut justru dapat menjadi dampak negatif bagi masyarakat, contohnya ialah kemiskinan dimana-mana, pengangguran, polusi tekanan pada sumber daya alam, kesenjangan sosial, dan tingginya kebutuhan pangan.
Karena negara Indonesia mempunyai populasi penduduk yang sangat tinggi, alhasil kebutuhan pokok atau kebutuhan pangan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Jika pasokan bahan pangan lebih rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka kelaparan dan kemiskinan akan terjadi dimana-mana, atau kata lainnya adalah krisis ekonomi.
Oleh karena itu, untuk mencegah hal buruk terjadi, maka pemerintah harus dapat mempunyai program untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.
Definisi dari swasembada pangan sendiri ialah kondisi di mana suatu negara mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya secara mandiri, tanpa harus bergantung pada impor dari negara lain. Ini berarti negara tersebut mampu memproduksi berbagai jenis bahan pangan pokok, seperti beras, jagung, dan lain-lain, dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warganya.
Sejak beberapa tahun yang lalu, negara Indonesia selalu melakukan impor beras dari beberapa negara tetangga, hal tersebut dilakukan guna memenuhi jumlah kebutuhan beras di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, semua menteri ditugaskan untuk mewujudkan seluruh program unggulan, dan salah satu program tersebut ialah mencapai swasembada pangan.
Baru-baru ini, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, dirinya sangat optimis bahwa negara Indonesia dapat menjadi swasembada pangan mandiri jika kita dapat melalui beberapa syarat yang ada.
Sudaryono menjelaskan, negara Indonesia adalah negara yang beriklim tropis, dan pada setiap tahun Indonesia hanya mempunyai dua musim saja, yakni musim hujan dan musim kemarau.
Sudaryono mengaku bahwa swasembada pangan dapat terwujud jika seluruh pertanian di Indonesia dapat melewati dua musim dengan lancar tanpa adanya gagal panen.
Untuk melewati dua musim tersebut, kita harus mempunyai strategi yang handal dan pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian nasional.
Menurut Sudaryono, saat ini beberapa negara maju sudah mempunyai sistem pertanian yang modern dan memanfaatkan teknologi untuk pemantauan kesuburan pertanian.
Lakukan Pemantauan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4912043/original/052729400_1723038995-image__16_.jpg)
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, para petani harus rajin dalam melakukan pemantauan kesuburan padi-padinya, pemantauan tersebut meliputi mengontrol aliran irigasi di sawah, memantau kadar ph pada air, mengontrol kualitas pupuk, mengontrol adanya hama, dan lainnya.
Sudaryono menjelaskan, dalam beberapa negara maju, pemantauan pertanian tersebut tidak lagi dilakukan oleh manusia, melainkan dilakukan oleh robot atau teknologi, bahkan teknologi mempunyai kemampuan yang lebih canggih untuk melakukan pemantauan.
Dengan adanya pemanfaat teknologi tersebut, maka tidak akan ada lagi para petani yang mengalami gagal panen, dan produksi padi di Indonesia akan meningkat, bahkan kita tidak perlu lagi ekspor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Disisi lain, Sudaryono juga mendesak pemerintah untuk melakukan perluasan lahan pertanian di seluruh daerah Indonesia, karena pada akhirnya yang dibutuhkan oleh para masyarakat hanyalah sekedar bahan pangan, bukan lagi gedung yang mewah dan mencakar langit.
