Rupiah Terus Melemah, Apakah Harga BBM Akan Mengalami Kenaikan?

Berita Trend Indonesia –¬†Seperti yang kita tahu, saat ini pergerakan nilai tukar mata uang negara Indonesia Rupiah terus mengalami peningkatan.

Sebagai informasi bahwa saat ini 1 Dolar Amerika Serikat sama dengan 16.390,00 Rupiah Indonesia.

Angka diatas menunjukan bahwa saat ini nilai tukar mata uang negara Indonesia melemah, dan jika dilihat dari trend harian maka angka tersebut terus meningkat setiap harinya.

Berikut trend nilai tukar rupiah pekan ini:

Diketahui, melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah akan berdampak buruk terhadap roda perekonomian di Indonesia.

Dampak tersebut ialah seperti menurunnya kepercayaan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, naiknya harga barang impor, dan inflasi besar-besaran akan terjadi di Indonesia.

Saat ini banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah harga komoditas bahan pangan dan minyak bumi atau Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengalami kenaikan, pasalnya saat ini nilai tukar Rupiah terus melemah.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro turut memberikan tanggapan mengenai kenaikan harga BBM imbas dari pelemahan Rupiah.

Komaidi Notonegoro mengatakan, beberapa hari yang lalu biaya pengadaan BBM terus mengalami kenaikan.

Menurut Komaidi Notonegoro, pelemahan rupiah dan/atau peningkatan harga minyak (ICP) memberikan dampak langsung terhadap meningkatnya biaya pengadaan energi, termasuk listrik, BBM, dan gas di Indonesia.

Peningkatan biaya pengadaan BBM tersebut disebabkan karena adanya peningkatan harga bahan baku akibat nilai tukar mata uang Rupiah yang terus melemah.

Berdasarkan perhitungan dari pihak Lembaga ReforMiner Institute, maka menjelaskan  bahwa USD 1 per barel akan meningkatkan biaya pengadaan BBM sekitar Rp 150 per liter. Sedangkan, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per USD, akan meningkatkan biaya pengadaan BBM sekitar Rp 100 per liter.

Komaidi Notonegoro menjelaskan, berdasarkan data, rata-rata realisasi kurs tengah Bank Indonesia selama 1 Januari – 26 Juni 2024 yakni Rp 15.892 per USD atau lebih tinggi Rp 892 per USD dibandingkan asumsi APBN 2024.

Jika melihat pada hasil simulasi poin 6, pelemahan rupiah tersebut memberikan dampak terhadap meningkatnya biaya pengadaan BBM sekitar Rp 705 untuk setiap liternya.

Komaidi Notonegoro mengaku bahwa saat ini biaya pengadaan BBM akan jauh lebih besar jika diperhitungkan dari realisasi rata-rata ICP pada periode yang sama, dan terhitung lebih tinggi lagi dibandingkan dengan asumsi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024.

Disisi lain, Komaidi Notonegoro juga menegaskan bahwa saat ini pelemahan nilai tukar mata uang bukan terjadi di negara Indonesia saja, melainkan ada beberapa negara lain seperti Singapura, Filipina, Thailand, Laos, dan Vietman yang juga mengalami pelemahan nilai tukar mata uang.

Bahkan, saat ini beberapa negara diatas sudah melakukan penyesuaian harga minyak bumi dan mengeluarkan kebijakan untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di negaranya.

 

Akankah harga BBM di Indonesia Mengalami Kenaikan?

Career | Pertamina

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, kenaikan harga BBM di Indonesia akan ditentukan oleh perbandingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika dilihat dari data yang ada, maka APBN Indonesia pada kuartal I-2024, pendapatan negara dilaporkan sekitar 7,57 persen lebih rendah dibandingkan Q1-2023.

Selanjutnya, penerimaan pajak dilaporkan turun 9,29 persen dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dilaporkan turun 6,69 persen.

Komaidi Notonegoro menjelaskan, jika dilihat dari data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa harga BBM di dalam negeri harus disesuaikan dan hal tersebut adalah hal yang logis di tengah relatif keterbatasan opsi kebijakan pemerintah.

Komaidi Notonegoro menyebutkan, dapat disimpulkan bahwa jika nilai tukar mata uang Rupiah terus mengalami kenaikan pada tahun ini, maka harga BBM dan komoditas bahan pangan di dalam negeri akan mengalami kenaikan.

Related posts