Polisi Usut Kasus Santri Tewas Berkelahi di Pesantren Daar El Qolam Tangerang

Berita Trend Indonesia –¬†Baru-baru ini, warganet dihebohkan dengan kabar bahwa ada salah santri yang meninggal dunia usai berkelahi dengan teman santrinya di Pondok Pesantren Daar El Qolam Kabupaten Tangerang.

Diketahui, salah satu santri yang meninggal tersebut berinisial BD (15), BD berkelahi dengan teman santri seangkatannya yang berinisial R (15).

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Raden Romdhon Natakusuma mengatakan, pihaknya telah mendalami kasus tersebut.

Raden Romdhon mengatakan, para saksi menyebutkan bahwa kronologi kejadian bermula saat pelaku R sedang mencari teman santrinya yang berinisial DS.

“Berdasarkan keterangan dari saksi, awal mula pemicu perkelahian antara R (15) dan BD (15) diawali dengan pelaku R (15) mencari santri DS (15) yang kebetulan sedang mandi berdua bersama korban BD (15). Saat R (15) membuka pintu tidak sengaja mengenai korban BD (15), karena kesal korban memaki dan berteriak kepada R (15) dan terjadi perkelahian,” ujar Raden Romdhon.

Saat terjadi kericuhan dan keributan, ada sejumlah santri yang melerai R dan BD.

Tetapi, kedua belah pihak masih belum bisa damai, hingga akhirnya pukul 06.35 WIB, pelaku R mendatangi kamar korban dan langsung menendang kepala korban BD sebanyak 2 kali.

Akibat perbuatan pelaku R tersebut, korban BD menjadi sakit kepala dan izin kepada pengurus santri untuk tidak masuk kelas pengajaran.

Siang harinya tepatnya pukul 14.00 WIB, korban BD ditemukan di kamar dengan tidak sadarkan diri.

Pengasuh santri langsung menggotong korban BD dan membawanya ke Klinik Fita Farma Tangerang.

“Saat sedang melakukan penanganan di Klinik Fita Farma Tangerang korban dinyatakan pada tubuh BD (15) sudah ada tanda-tanda kematian, kemudian korban oleh pengasuh Ponpes di bawa ke RSUD Balaraja untuk memastikan lebih jelas kondisi korban,” ujar Raden Romdhon.

Raden Romdhon menegaskan, saat ini pihak kepolisian masih mendalami dan terus menyelidiki kasus tersebut.

 

Polisi Temukan Luka Lebam

 

Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Zamrul Aini mengatakan, pihaknya menemukan bukti adanya luka lebam di tubuh korban BD.

“Ada luka lebam, tapi untuk pastinya kita tunggu hasil autopsi,” ujar Zamrul Aini.

“Saksi dan pelaku sudah kita amankan, sejauh ini masih kita periksa atas peristiwa itu,” sambungnya.

 

Kemenag Tegur Pengurus Santri

Kemenag Tegur Pengurus Ponpes yang Santrinya Meninggal Dunia Usai Berkelahi - News Liputan6.com

Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tangerang menegur pengurus Pondok Pesantren Daar El Qolam.

Joni Juhaemin, selaku Kepala Seksi Pondok Pesantren Kemenag Tangerang mengatakan, pihaknya telah menegur pihak pesantren untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan para santri.

“Kami sudah ke pesantrennya untuk mendapatkan keterangan langsung dari pihak pesantren. Intinya dari semua keterangan, kami minta agar ustaznya bisa lebih bisa meningkatkan pengawasan,” ujar Joni Juhaemin.

Joni Juhaemin menegaskan, seharusnya setiap kamar harus dipasangi CCTV agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Tiap kamar itu ada ustaz pengawasnya. Jadi selain peningkatan itu, kita juga minta untuk dipasang CCTV agar hal-hal seperti ini bisa diantisipasi,” tegas Joni Juhaemin.

 

Keluarga Tidak Menuntut Pondok Pesantren

Kemenag Tegur Pengurus Ponpes yang Santrinya Meninggal Dunia Usai Berkelahi - News Liputan6.com

Pada Senin, 8 Agustus 2022. Jasad Korban BD telah dimakamkan di pemakaman keluarga,Kampung Alang, Desa Kebon Cau, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Diketahui, orang tua dan keluarga korban menangis histeris saat mengiringi pemakaman BD.

Wahyudi, selaku ayah korban mengatakan, perkelahian dapat terjadi karena adanya kelalaian pengamanan dari pihak pondok pesantren.

“Saya titip anak di pesantren supaya dijaga, diawasi dengan baik, tapi sayangnya dengan insiden ini berarti pihak pondok (pesantren) lengah dalam mengawasi santrinya,” ujar Wahyudi.

Wahyudi mengaku, dirinya dan keluarga tidak akan menuntut pesantren, tetapi ia hanya meminta pihak pesantren untuk lebih ketat dalam mengawasi santrinya agar tidak terjadi hal serupa.

“Sehingga insiden yang dialami anak saya tidak terulang lagi,” tutup Wahyudi.

Related posts