Lemahnya Rupiah Berlanjut, Defisit Neraca Dagang Memicu Tekanan Baru

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, nilai tukar (kurs) rupiah akhir-akhir ini sangat melemah. Nilai rupiah ini kembali melemah ditengah kondisi yang menghkhawatirkan beberapa pihak, terutama pihak perdagangan internasional Indonesia.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolas AS saat ini berada di angka 0,17% atau sebesar 18.027 per dolar AS.

Pada saat ini, yang menjadi perhatian pihak perdagangan yaitu adanya defisit neraca dagang. Defisit neraca dagang sendiri merupkaan kondisi dimana nilai impor lebih besar dibandingkan nilai ekspor pada periode tertentu. Situasi ini dinilai dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah karena berpotensi mengurangi pasokan devisa yang masuk ke dalam negeri.

Dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan di Indonesia pada bulan Juni 2026 defisit US$ 450 juta dolar yang sebelumnya sebesar US$ 1,61 miliar.

Cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada akhir bulan Juli 2026 berapa di US$ 145 miliar. Cadangan devisa tersebut menurun dari bulan sebelumnya karena pembayaran utang luar negeri pemerintah serta menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, apabila tekanan terhadap rupiah dan defisit neraca perdagangan terus berlanjut, penggunaan cadangan devisa berpotensi meningkat sehingga perlu diimbangi dengan penguatan ekspor dan masuknya investasi asing.

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Indonesia belakangan ini juga menjadi potensi melebarnya defisit.

Indonesia merupakan negara yang mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah maupun BBM, sehingga ketika harga energi meningkat, nilai impor ikut bertambah. Di sisi lain, kenaikan harga BBM juga dapat mendorong biaya produksi dan distribusi barang, yang akhirnya memicu kenaikan inflasi di dalam negeri.

Demo Tolak Kenaikan BBM

Dalam beberapa waktu, banyak aksi demonstrasi yang menolak adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah daerah.

Masyarakat menilai bahwa kebijakan yang ditetapkan hanya akan membebani kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini masih menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Para demonstran menyampaikan bahwa kenaikan BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga akan memicu kenaikan harga barang dan jasa secara luas.

Melemahnya nilai rupiah ini mempengaruhi beberapa faktor dalam kehidupan masyarakat, mulai dari kebutuhan pokok, kebutuhan sehari-hari, maupun kebutuhan laiinnya.

Pemerintah juga menegaskan bahwa kenaikan bahan bakar minyak ini hanya berlaku pada bahan bakar minyak non-subsidi dan pemerintah juga memastikan bahwa harga BBM subsidi tetap sama yakni Rp 10.000,.

 Defisit Menurun

Defisit neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2026 terutama disebabkan oleh sektor migas (minyak dan gas), meskipun sektor nonmigas masih mencatat surplus yang cukup besar.

Neraca non-migas pada Juni 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,04 miliar yang menunjukkan bahwa ekspor barang yang dilakukan masih lebih besar. Sedangkan pada sektor migas (minyak dan gas) Juni 2026 mengalami defisit sebesar US$ 3,49 miliar.

Karena defisit sektor migas lebih besar daripada surplus sektor nonmigas, maka secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 menjadi defisit sekitar US$450 juta.

Hal ini mencerminkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) masih cukup tinggi, sehingga ketika harga energi meningkat, tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah ikut bertambah.

Berikut merupakan pernyataan dari Ateng Hartono selaku Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS:

@bisniscom

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit US$450 juta pada Juni 2026 akibat realisasi impor melampaui ekspor. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 yang sebesar US$1,61 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan Indonesia mencatatkan ekspor Juni 2026 mencapai US$25,46 miliar atau naik 8,84% jika dibandingkan Juni 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$1,07 miliar atau turun 3,78%, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 9,46% dengan nilai pada Juni 2026 sebesar US$24,39 miliar. “Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$0,45 miliar [US$450 juta]. Defisit pada bulan Juni 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng pada Senin, (3/8/2026). Simak berita selengkapnya hanya di Bisnis.com Reporter: Renita Sukma Editor: Arief Miftah

♬ original sound – Bisnis Indonesia – Bisnis Indonesia

Related posts