Heboh Bea Cukai Resmi Ungkap Ratusan Kasus Tambang Emas Ilegal di Indonesia

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, negara Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah.

Sebagai informasi bahwa SDA yang dimiliki oleh negara Indonesia tersebut menjadi dua jenis, yakni SDA Hayati dan SDA Non-Hayati.

SDA Hayati merupakan sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup yakni seperti tumbuhan, ikan, sapi, ayam, susu, daging, kulit, dan lainnya. SDA Hayati juga bersifat dapat diperbarui yakni dengan perkembangbiakan secara alami maupun dibudidaya.

Sedangkan, SDA Non-Hayati merupakan sumber daya alam yang berasal dari benda mati yakni seperti air, tanah, udara, sinar matahari, bahan tambang, mineral, emas, timah, batu bara, minyak bumi, dan gas alam. SDA Non-Hayati sendiri juga bersifat tidak dapat diperbarui.

Meskipun mempunyai dua jenis sumber daya alam, tetapi sumber daya alam yang paling dibanggakan dan sering di ekspor ke luar negeri ialah sumber daya non-hayati.

Sejak beberapa tahun yang lalu, negara Indonesia telah melakukan ekspor dalam sektor pertambangan, mineral, dan energi, yakni komoditas batu bara, gas alam, minyak bumi, nikel, besi dan baja, biji logam, belerang, dan emas.

Bahkan, sejak beberapa tahun yang lalu, negara Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu negara penghasil emas terbesar di dunia.

Negara Indonesia sendiri juga telah mempunyai tambang emas terbesar di dunia, yakni PT Freeport Indonesia yang berada di Mimika, Papua Tengah.

Dengan tingginya cadangan emas dan komoditas lain di Tanah Air, seharusnya negara Indonesia dapat menjadi negara yang kaya dan mampu mewujudkan cita-cita untuk menjadi negara maju Indonesia Emas 2045.

Namun nahas, pada realitanya justru berbanding terbalik, sampai saat ini negara Indonesia justru belum dapat menjadi negara maju, dan arus kas negara Indonesia justru mengalami penurunan, hal tersebut dilihat dari adanya pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah dengan Dolar AS.

Banyak warganet yang bertanya-tanya tentang mengapa sampai saat ini negara Indonesia masih belum menjadi negara maju, dan mengapa keuangan di Indonesia justru memburuk.

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi hal tersebut, tetapi faktor utamanya ialah masih tingginya kasus korupsi di negara Indonesia.

Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sendiri telah mengamankan 127 pihak terkait yang diduga telah merilis emas ilegal dari tahun 1 Januari hingga 27 Oktober 2026.

Pengungkapan kasus emas ilegal oleh Ditjen Bea Cukai menunjukan bahwa saat ini kasus penyelewengan dan penyalahgunaan kekayaan alam masih saja terjadi, dan jika di terus-teruskan maka sampai kapanpun negara Indonesia akan susah menjadi negara maju.

Dari hasil penemuan oleh Ditjen Bea dan Cukai, maka petugas mereka telah berhasil menemukan 402,31 kilogram emas ilegal dan nilai dari penemuan tersebut mencapai Rp 1,02 triliun.

Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Priyono Triatmojo mengatakan, pengungkapan kasus emas ilegal juga turut berhasil menyelamatkan kerugian negara hingga Rp 183 miliar.

Priyono Triatmojo menjelaskan, sebagai contoh, pada awal bulan Oktober hingga saat ini, pihaknya telah berhasil mengamankan 25,88 kg emas ilegal, dan nilai dari penemuan tersebut mencapai Rp 61,95 miliar.

 

Tanggapan Presiden Prabowo Subianto

Presiden Prabowo Subianto mengatakan, negara Indonesia memang mempunyai kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, tetapi dari dulu sampai sekarang kekayaan tersebut dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Presiden Prabowo Subianto juga menghimbau masyarakat untuk berani melaporkan jika mereka melihat para pejabat melakukan pelanggaran maupun penyelewengan.

Disisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa “untuk kesekian kali lagi, di tempat yang bersejarah ini, atas nama rakyat Indonesia, saya peringati semua unsur di semua lembaga: segera benah diri, segera bersihkan diri, karena negara akan bertindak. Negara kita kuat. Mereka-mereka yang tidak setia kepada negara akan kita singkirkan dengan tidak ragu-ragu, tanpa memandang bulu, tanpa melihat keluarga siapa, partai mana, suku mana”.

Komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola pemerintahan dan membersihkan para koruptor juga dibuktikan dengan adanya sejumlah penangkapan para pejabat yang telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi, contohnya baru-baru ini ada Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, sejumlah Kepala Daerah, Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan Kasus Dana Bencana BNPB.

Related posts