Obat Untuk Alkoholisme, Sudah Ada Kah?

Beritatrendindonesia.com – Para ilmuwan telah membuka kemungkinan menciptakan obat untuk masalah alkoholisme setelah menemukan sirkuit otak yang mengontrol konsumsi alkohol kompulsif.

Pertanyaan mengapa beberapa orang mengembangkan masalah minum sedangkan yang lain tidak lama membingungkan para ilmuwan. Para peneliti akhirnya bisa memecahkan pertanyaan kompleks jika penemuan mereka pada tikus ternyata juga berlaku untuk manusia.

Sementara banyak dari literatur ilmiah sebelumnya meneliti efek alkohol pada otak. Tim ilmuwan dari Salk Institute California berfokus pada membuktikan bahwa sirkuit otak dapat membuat beberapa orang lebih mungkin menjadi pecandu alkohol.

“Kami telah menemukan [untuk pertama kalinya] sirkuit otak. Ini dapat secara akurat memprediksi tikus mana yang akan mengembangkan minum alkohol kompulsif berminggu-minggu sebelum perilaku dimulai.” jelas peneliti utama Kay Tye.

“Penelitian ini menjembatani kesenjangan antara analisis rangkaian dan penelitian kecanduan alkohol. Juga memberikan pandangan sekilas tentang bagaimana representasi dari peminum alkohol kompulsif berkembang sepanjang waktu di otak.”

Tim menciptakan tes untuk memeriksa bagaimana kerentanan terhadap konsumsi alkohol atau alkoholisme. Berinteraksi dengan pengalaman untuk menciptakan tikus dengan masalah minum.

Melalui serangkaian tes, mereka mengamati bahwa tikus dapat dipilah menjadi tiga kelompok. Yaitu peminum rendah, peminum tinggi dan peminum kompulsif. Berbeda dengan dua kelompok pertama, peminum kompulsif menunjukkan ketidakpekaan terhadap konsekuensi negatif, seperti ketika para ilmuwan membuat alkohol terasa pahit.

Baca Juga: Perang Korea Utara VS Jepang, Korea Selatan Di Pihak Siapa?

Mereka kemudian menggunakan teknik pencitraan khusus untuk memetakan sel-sel dan daerah otak yang menarik sebelum minum, selama minum, dan setelah minum alkohol.

Memberi perhatian khusus pada aktivitas neuron di dua daerah yang terlibat dalam kontrol perilaku dan menanggapi peristiwa buruk, mereka menemukan bahwa pengembangan minum kompulsif terkait dengan pola komunikasi saraf antara dua wilayah otak, dan merupakan biomarker untuk memprediksi minum kompulsif di masa depan.

Dalam langkah berikutnya yang menarik, para peneliti menggunakan cahaya untuk mengontrol aktivitas jalur saraf. Dalam penemuan terobosan potensial, mereka menemukan bahwa mereka dapat meningkatkan minum alkohol kompulsif. Atau menguranginya dengan menghidupkan atau mematikan sirkuit otak.

Rencana selanjutnya para peneliti adalah mengurutkan neuron-neuron ini untuk mengidentifikasi neuron yang dapat digunakan untuk mengobati orang dengan masalah alkoholisme.

Dengan ini, para ilmuwan berharap bahwa alkoholisme bisa di sembuhkan.

Related posts