Menyambut HUT Ke-66, PT Wijaya Karya Gelar Gerakan Tanam 6.600 Pohon

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini isu tentang kerusakan lingkungan sedang marak diperbincangkan oleh banyak negara di dunia.

Sebagai informasi bahwa definisi dari kerusakan lingkungan ialah penurunan kualitas lingkungan hidup yang disebabkan oleh sejumlah peristiwa alam atau perbuatan buruk manusia, contoh dari kerusakan lingkungan ialah seperti menurunnya kualitas air, udara, tanah, punahnya flora dan fauna, dan kerusakan ekosistem alam.

Kerusakan lingkungan tidak boleh disepelekan, karena kerusakan lingkungan dapat berdampak negatif signifikan terhadap kehidupan manusia, yakni meningkatkan frekuensi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, wabah penyakit, dan sosial-ekonomi.

Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa sebagian besar kerusakan lingkungan terjadi akibat perbuatan buruk dari manusia, seperti membuang sampah secara sembarangan, melakukan pembalakan liar atau menebang pohon secara sembarangan tanpa izin yang resmi, penggunaan sumber daya secara terus-menerus tanpa adanya reboisasi atau tanggung jawab sosial dan lingkungan, membuang limbah secara sembarangan ke sungai, dan tingginya polusi udara yang disebabkan karena aktivitas industri serta asap kendaraan.

Sebagai contoh nyata bahwa beberapa bulan yang lalu, masyarakat yang tinggal di daerah Sumatera Barat telah terkena bencana banjir bandang dan tanah longsor yang sangat hebat, dan bencana tersebut menelan korban hingga ribuan jiwa.

Sejumlah pakar mengklaim bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera Barat tersebut disebabkan karena adanya pembalakan liar dan penggundulan hutan secara masif, sehingga tanah menurun dan resapan air mulai berkurang.

Oleh karena itu, saat ini kita tidak boleh menyepelekan kerusakan lingkungan yang ada di negara Indonesia, dan seluruh industri juga harus mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan serta menjalankan program CSR (Corporate Social Responsibility) dan SDGs (Sustainable Development Goals).

Baru-baru ini, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) telah resmi menggelar program penanaman kembali 6.600 pohon dan aksi bakti sosial guna menyambut HUT (Hari Ulang Tahun) yang Ke-66.

Direktur Utama WIKA Agung BW mengatakan, program penanaman 6.600 pohon dan aksi bakti sosial merupakan bukti nyata bahwa pihaknya mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan yang sangat ketat dan mendukung pemerintah dalam menerapkan program CSR dan SDGs, dan program tersebut juga selaras dengan implementasi TJSL, prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), dan mendukung Asta Cita Pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia unggul.

Bahkan, dalam pelaksanaannya, PT Wika selalu mengeluarkan laporan berkelanjutan setiap tahunnya, dan PT Wika selalu mendapatkan peringkat yang tinggi atau mendapatkan nilai warna emas dalam penilaian PROPER.

Agung BW menjelaskan, program penanaman 6.600 pohon dan aksi sosial tersebut diberinama dengan program agrivillage, pada realitanya program ini akan menggabungkan kedua aspek yakni sosial dan lingkungan untuk menjadi lebih baik lagi dan berkelanjutan, serta mampu mewujudkan sumber daya manusia yang unggul.

Agung BW juga menjelaskan bahwa program agrivillage akan dilaksanakan di kawasan Situ Jejed, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).

 

Lokasi Tanam 6.600 Pohon dan Aksi Sosial PT WIKA

Rayakan Hari Jadi Ke-64 - WIKA Tanam 6400 Pohon di Berbagai Lokasi Proyek | Neraca.co.id

Direktur Utama WIKA Agung BW mengatakan, aksi penanaman 6.600 pohon digelar di kawasan Proyek Tol Ibu Kota Nusantara (IKN) 3B Seksi 2, Kalimantan Timur (Kaltim).

Agung BW menjelaskan, program penanaman 6.600 pohon juga didampingi oleh sejumlah pihak terkait, seperti Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, dan pihak manajemen proyek pembangunan IKN.

Jenis pohon yang digunakan untuk program tersebut terbagi menjadi beberapa jenis, yakni meliputi 4.000 pohon di dataran Kalimantan, 2.000 pohon di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, dan 600 pohon di kawasan agrivillage.

Agung BW mengaku bahwa pohon yang digunakan untuk program tersebut ialah pohon yang mempunyai kualitas yang bagus, produktif, dan sangat efektif dalam melakukan penyerapan karbon dengan tujuan utama yakni untuk mengurangi emisi dan memulihkan fungsi ekologis lahan.

Program penanaman 6.600 pohon bukan hanya digelar untuk memulihkan kerusakan lingkungan saja, melainkan untuk mewujudkan cita-cita Ibu Kota Nusantara yakni menjadi kawasan yang maju, modern, dan menjadi kota hijau yang berkelanjutan.

Selain menggelar program penanaman 6.600 pohon, PT Wika juga menggelar aksi bakti sosial berupa operasi terhadap 66 anak bibir sumbing dari keluarga Pra-Sejahtera Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, PT Wika melakukan aksi bakti sosial tersebut juga didampingi oleh pihak terkait, seperti RSPAU Dr. S. Hardjolukito dan Pemerintah Daerah (Pemda) Istimewa Yogyakarta, dan Dinas Sosial Provinsi.

Menurut Agung BW, aksi bakti sosial operasi bibir sumbing terhadap 66 anak merupakan bentuk nyata bahwa PT Wika sangat mendukung perkembangan anak di negara ini, karena mereka-lah yang akan melanjutkan perjuangan kita semua untuk memajukan dan memakmurkan negara Indonesia.

Disisi lain, Agung BW juga menghimbau kepada seluruh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Swasta untuk turut menggelar aksi sosial dan lingkungan di sejumlah daerah, karena kerusakan lingkungan dan pemulihan ekosistem bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia.

Related posts