Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini kondisi geopolitik global sedang tidak baik-baik saja.
Sebagai informasi bahwa saat ini beberapa negara berpengaruh di daerah Barat dan Timur Tengah sedang mengalami konflik yang sangat panas.
Bahkan konflik yang terjadi bukan lagi merujuk pada perang kecaman atau perang dagang saja, melainkan sudah merujuk pada perang kontak senjata dan saling menghancurkan satu sama lain.
Diketahui, negara yang terlibat konflik tersebut ialah Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Berdasrakan data yang ada, maka dijelaskan bahwa pada 28 Februari 2026 lalu, AS-Israel telah melakukan serangan militer terbuka (serangan udara gabungan) yang menargetkan fasilitas militer Iran.
Untuk melindungi dan mempertahankan daerahnya, negara Iran juga sempat melakukan perlawanan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah, dan negara Iran juga memblokir Selat Hormuz.
Akibat konflik tersebut, maka kedua negara telah mengalami kerugian yang cukup signifikan, negara AS mengalami kerugian hingga Rp 33 triliun rupiah. Sementara negara Iran mengalami kerugian hingga Rp 59 triliun rupiah.
Diketahui, perang tersebut bukan hanya berdampak terhadap negara terlibat saja, melainkan negara lain juga akan merasakan dampaknya, seperti terjadi ketidakpastian global, harga minyak semakin tinggi, inflasi bahan pangan, kerugian keuangan internasional, dan kerugian sektor industri karena kekurangan pasokan bahan baku.
Banyak pihak yang meminta agar perang AS-Israel dan Iran segera dihentikan, karena dampak negatifnya sudah menyebar dimana-mana.
Namun sayang, sampai saat ini kedua belah kubu masih saling bersikeras untuk menyerang satu sama lain, dan lebih parahnya lagi pihak AS mengklaim bahwa mereka akan menghancurkan pasokan energi listrik di Iran.
Banyak pihak juga yang sudah tidak percaya dan tidak antusias terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena sampai saat ini pihak PBB tidak ada langkah ketegasan untuk mendamaikan perang AS-Israel dan Iran.
Karena konflik semakin panas dan dampaknya menyebar ke banyak negara, akhirnya para warga AS turut melakukan aksi demo turun ke jalan untuk menentang kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dilansir dari kanal berita internasional, maka dijelaskan bahwa total terdapat 8 juta warga AS yang turun ke jalan, demo tersebut terjadi di sejumlah kota besar AS seperti New York, Los Angeles, dan Chicago.
Tema demo yang diangkat oleh para warga AS ialah “No Kings” dengan tuntutan (Penolakan terhadap kebijakan imigrasi, Penolakan terhadap ketegangan antara AS dan Iran, serta potensi perang, Penolakan terhadap kenaikan biaya hidup yang dirasakan masyarakat, dan Kekhawatiran akan ancaman terhadap demokrasi di AS).
Sejumlah pakar mengklaim bahwa demo “No Kings” adalah demo terbesar dalam sejarah AS.
Veteran Militer, Marc McCaughey mengatakan, tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat. Kami disini karean kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tiak normal. Keadaan tidak baik-baik saja.
Banyak demonstran juga yang membawa poster sangat besar dengan tulisan “Trump harus mundur sekarang” “Lawan Fasisme”.
Seorang demonstran, Robert Pavosevich mengatakan, Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami.
Berikut merupakan cuplikan video aksi demo warga AS terhadap kebijakan Donald Trump:
@cnnindonesia Setidaknya 8 juta orang di Amerika Serikat disebut ikut serta dalam demonstrasi “No Kings”, aksi protes terhadap Presiden Donald Trump. Menurut penyelenggara No Kings, protes yang digelar pada Sabtu (28/3) waktu AS tersebut merupakan bentuk frustrasi warga terhadap kepemimpinan Trump. Aksi ini berlangsung di 50 negara bagian, mencakup kota-kota seperti New York, Los Angeles, Chicago, hingga komunitas kecil di Alaska. Para demonstran membawa spanduk, mengenakan kostum, dan menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. selengkapnya di cnnindonesia.com. (???? REUTERS) – #cnnindonesia #cnnindonesiacom #donaldtrump #protestrump
Tanggapan Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, jujur saja, keinginan terbesarnya adalah mengambil minyak di Iran. Tetapi, sampai saat ini dirinya masih bingung karena ada saja warga AS yang bertanya kenapa dirinya melakukan hal tersebut.
Menurut Donald Trump, warga AS yang bertanya adalah warga yang bod*h, bahkan benar-benar bod*h.
Donald Trump juga mengaku bahwa dirinya memanglah bukan raja, tetapi dirinya selalu berupaya semaksimal mungkin untuk membuat negara ini (AS) menjadi hebat.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump kepada wartawan Financial Times.
Disisi lain, Juru Bicara Gedung Putih, Abigail Jackson mengatakan, demonstrasi yang dilakukan adalah tidak signifikan dan mereka hanya ingin mendapatkan perhatian dari media.
