Dua Kubu Saling Serang Untuk Berebut Takhta Keraton Cirebon

Berita Trend Indonesia – Aksi tawuran terjadi karena adanya perebutan takhta Keraton Kasepuhan Cirebon.

Dua kubu yang dimaksud adalah pendukung Sultan Luqman Zulkaedin dan Aloeda II. Dua kubu saling melempar batu hingga ricuh.

Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 25 Agustus 2021, tepatnya pukul 13.00 WIB.

Bentrok antara dua kubu ini diduga karena ricuhnya prosesi pelantikan Perangkat Keraton Kasepuhan Cirebon bersi Rahardjo Djali yang ditunjuk sebagai Sultan Aloeda II.

Kedua kubu saling berteriak dan melempari batu satu sama lain, tak lama kemudian, pihak kepolisian datang untuk melerai kedua kubu, polisi sempat memperingati dan menodongkan senjata api ke atas.

Polisi menggiring mundur pendukung dari Sultan Aloeda II. Polisi meminta agar kedua kubu bubar dan keluar dari area keraton.

 

Kericuhan saat pelantikan

Ricuh, Pelantikan di Keraton Kasepuhan Cirebon - YouTube

Kericuhan bermula saat terjadinya pelantikan perangkat Keraton Kasepuhan Cirebon versi keluarga Rahardjo Djali yang ditunjuk menjadi Sultan Aloeda II, pada Rabu 25 Agustus 2021.

Pihak keluarga dari Sultan Kasepuhan XV PRA Luqman Zulkaedin melalui Alexandra, ia tiba-tiba masuk dan bernada keras membubarkan prosesi pelantikan yang telah digelar di Bangsal Jinem Pangrawit.

Setelah Rahardjo membacakan sumpah kepada perangkat Keraton Kasepuhan Cirebon yang baru. Timbul Ratu Alexandra, pihak dari keluarga PRA Luqman Zulkaedin, yang berupaya untuk mengacaukan dan membubarkan pelantikan, aksi dorong dan adu mulut terjadi antara keduabelah pihak.

“Mohon maaf ada apa ini. Kegiatan ilegal tidak ada izin bubar,” tegas Alexandra sambil mendorong barisan yang mengelilingi prosesi pelantikan.

Keduabelah pihak saling mengungkit serta menyalahkan sejarah masa lalu.

Alexandra menegaskan, kegiatan pelantikan ini termasuk ilegal karena dari sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon hanya boleh ada satu Sultan yaitu PRA Luqman Zulkaedin.

Ia mengatakan pelantikan ini termasuk ilegal karena tidak ada izin dari Sultan PRA Luqman Zulkaedin.

“Di Keraton Kasepuhan itu sultan cuma satu. Tidak ada sultan dua. Kegiatan yang ada di keraton harus sepengetahuan sultan sepuh. Kegiatan ini tanpa ada pemberitahuan daei saya pengelola keraton. Kegiatan itu tanpa izin,” ujar Alexandra.

Alexandra mengakui dirinya sempat kaget dan tidak diberi informasi bila ada kegiatan pelantikan tersebut.

Ia mengaku prihatin dengan adanya pelantikan tanpa izin, disisi lain Keraton ditutup karena adanya kegiatan PPKM.

 

Pendapat dari kubu Rahardjo

Bergelar Aloeda II, Rahardjo Djali Naik Tahta Duduki Kursi Sultan Keraton Kasepuhan - Pojok Jabar

Sultan Aloeda II Rahardjo menyampaikan, prosesi pelantikan tetap berjalan dan sah untuk dilaksanakan.

Menurut Sultan Aloeda II Rahardjo, kericuhan yang terjadi saat pelantikan merupakan hal yang sudah biasa.

Rahardjo menegaskan, ia membuka diri dan siap untuk menyelesaikan masalah ini ke polemik internal di Keraton Kasepuhan dengan intelektual.

“Karena kita ini orang orang berpendidikan dan bermartabat. Jangan menyelesaikan masalah dengan cara premanisme. Kalau tidak puas mari selesaikan jalur hukum,” kata Rahardjo.

Sultan Aloeda II menyampaikan, pelantikan tidak memerlukan izin, karena, perdebatan internal ini merupakan keluarga besar Keraton Kasepuhan Cirebon.

Menurutnya, Keraton Kasepuhan merupakan entitas yang berbeda dari entitas-entitas lainnya.

“Di sini berlaku hukum adat dan tidak memerlukan izin siapa pun. Kami akan melalukan pelaporan jalur hukum. Dan pelantikan hari ini sah,” ujar Rahardjo.

Prosesi pelantikan tersebut dijalankan guna menandakan sultan beserta pengabdinya mampu bertugas di Keraton Kasepuhan dengan benar.

“Kurang lebih 20 orang dilantik dari patih sepuh patih dalam pangeran kumisi sepuh pangeran kumisi dalem. Kami akan melakukan perbaikan. Agar bisa menarik wisatawan lebih banyak,” ujar Rahardjo.

Related posts